Blog

Sejarah Perjanjian Tumbang Anoi

Untuk mempersatukan wilayah borneo, maka pada tahun 1894, atas prakarsa Damang Batu, dari desa Tumbang Anoi di Kalimantan Tengah mengumpulkan semua or

ang yang memiliki gelar tamanggung, damang, dambung, dohong..se-Borneo, dalam perjanjian Tumbang Anoi.Perjanjian Tumbang Anoi sendiri dimulai dengan pertemuan pendahulu yang disebut dengan Pertemuan Kuala Kapuas, pada tanggal 14 Juni 1893. Dalam pertemuan tersebut membahas beberapa hal sebagai persiapan untuk melakukan pertemuan yang lebih besar, diantaranya adalah :

1. Memilih siapa yang berani dan sanggup menjadi ketua dan sekaligus sebagai tuan rumah untuk menghentikan 3 H (Hakayau=Saling mengayau, Hopunu=saling membunuh, dan Hatetek=Saling memotong kepala musuhnya).

2. Merencanakan di mana tempat perdamaian itu.

3. Kapan pelaksanaan perdamaian itu.

4. Berapa lama sidang damai itu bisa dilaksanakan.

Damang Batu saat itu menyanggupi untuk menjadi tuan rumah sekaligus menanggung biaya pertemuan yang direncanakan berlangsung selama 3 bulan tersebut. Karena semua yang hadir juga tahu bahwa Damang Batu memiliki wawasan yang luas tentang adat-istiadat yang ada di Kalimantan pada waktu itu, maka akhirnya semua yang hadir setuju.

Akhirnya dalam pertemuan pendahulun ini disepakati bahwa :

1. Pertemuan damai akan dilaksanakan di Lewu (kampung) Tumbang Anoi, yaitu di Betang tempat tinggalnya Damang Batu.

2. Diberikan waktu 6 bulan bagi Damang Batu untuk mempersiapkan acara.

3. Pertemuan itu akan berlangsung selama tiga bulan lamanya.

4. Undangan disampaikan melalui tokoh/kepala suku masing-masing daerah secara lisan sejak bubarnya rapat di Tumbang Kapuas.

5. Utusan yang akan menghadiri pertemuan damai itu haruslah tokoh atau kepala suku yang betul-betul menguasai adat-istiadat di daerahnya masing-masing.

6. Pertemuan Damai itu akan di mulai tepat pada tanggal 1 Januari 1894 dan akan berakhir pada tanggal 30 Maret 1894.

Pertemuan Damai akhirnya terlaksana pada 1 Januari 1894 hingga 30 Maret 1894, di Rumah Betang Damang Batu di Tumbang Anoi. Tidak didapatkan informasi lengkap mengenai jumlah peserta dan kepala suku yang hadir saat itu namun dijelaskan bahwa dalam pertemuan damai itu, menghasilkan keputusan yang bersejarah :

1. Menghentikan permusuhan antar sub-suku Dayak yang lazim di sebut 3H Hakayou (saling mengayau), Hapunu (saling membunuh), dan Hatetek (saling memotong kepala) di Kalimantan (Borneo pada waktu itu).

2. Menghentikan sistem Jipen (hamba atau budak belian) dan membebaskan para Jipen dari segala keterikatannya dari Tempu (majikannya) sebagai layaknya kehidupan anggota masyarakat lainnya yang bebas.

3. Menggantikan wujud Jipen yang dari manusia dengan barang yang bisa di nilai seperti baanga (tempayan mahal atau tajau), halamaung, lalang, tanah / kebun atau lainnya.

4. Menyeragamkan dan memberlakukan Hukum Adat yang bersifat umum, seperti : bagi yang membunuh orang lain maka ia harus membayar Sahiring (sanksi adat) sesuai ketentuan yang berlaku. pada yang digunakan lawan*nya manu*sia.

5. Memutuskan agar setiap orang yang membunuh suku lain, ia harus membayar Sahiring sesuai dengan putusan sidang adat yang diketuai oleh Damang Batu. Semuanya itu harus di bayar langsung pada waktu itu juga, oleh pihak yang bersalah.

6. Menata dan memberlakukan adat istiadat secara khusus di masing-masing daerah, sesuai dengan kebiasaan dan tatanan kehidupan yang di anggap baik.

Pertemuan yang sangat bersejarah tersebut ternyata menghasilkan kesepakatan yang fenomenal, yakni menghilangkan kemungkinan perang antar suku dan sekaligus menghapus perbudakan dalam sistem tatanan adat suku dayak. Selain itu mereka juga berupaya untuk membentuk tatanan bersama yang diwujudkan dalam kesepakatan untuk menyeragamkan aturan dalam hukum adat yang sifatnya umum.

Sampai sekarang situs peninggalan perjanjian di Tumbang Anoi masih tersisa.Namun atas rekayasa pemerintah Belanda, pada saat itu tempat Perjanjian Tumbang Anoi yang berupa BETANG, dihancurkan oleh tentara belanda agar perjanjian di Tumbang Anoi di anggap tidak ada. bahan bangunannya dipindahkan sebagian ke Kuala Kapuas, namun tidak dapat mengangkut semua materialnya karena terbuat dari batang ulin yang sangat dalam tertancap tanah, besar, berat serta medan yang panjang melalui sungai yang panjang untuk mengangkutnya. Tumbang Anoi adalah tempat bersejarah perjalanan masyarakat Dayak. Tumbang Anoi menjadi tempat rapat akbar untuk mengakhiri tradisi ”mengayau” pada tahun 1894. Kini, setelah satu abad berlalu, Tumbang Anoi tetap menjadi sumbu perdamaian bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Mengayau atau memenggal kepala musuh dalam perang antarsuku dahulu kala adalah salah satu kebiasaan sejumlah subsuku Dayak di daratan Kalimantan (kini terbagi menjadi wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei) yang sangat ditakuti. Kadangkala, mengayau tidak hanya dilakukan dalam peperangan, tetapi juga ketika merampok, mencuri, atau menduduki wilayah subsuku lain.

Sebelum disepakati untuk dihentikan, mengayau makin membudaya karena semakin banyak kepala musuh yang dipenggal (dibuktikan dengan banyaknya tengkorak musuh di rumahnya), seorang lelaki semakin disegani. Bahkan, perselisihan antarsuku terus berlanjut karena masing-masing suku membalas dendam. Perselisihan berkepanjangan itu membuat Residen Belanda di Kalimantan Tenggara yang kini meliputi wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan merasa tidak aman.

Dalam bukunya, Pakat Dayak, KMA M Usop menuturkan, Brus, Residen Belanda Wilayah Kalimantan Tenggara, pada Juni 1893 mengundang semua kepala suku yang terlibat sengketa ke Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, untuk membicarakan upaya perdamaian.

Dalam pertemuan itu disepakati, harus digelar pertemuan lanjutan yang melibatkan seluruh suku Dayak di Borneo untuk membahas berbagai persoalan yang menjadi akar perselisihan. Namun, menggelar pertemuan lanjutan itu bukan pekerjaan mudah. Ketika itu, akses antarwilayah masih mengandalkan sungai.

Satu-satunya kepala suku yang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pertemuan akbar itu adalah Damang Batu, salah satu kepala suku Dayak Ot Danum di Tumbang Anoi. Sepulang dari Kuala Kapuas, Damang Batu yang ketika itu berumur 73 tahun langsung memulai pekerjaan besarnya menyiapkan tempat dan logistik.

Selama lima bulan hingga akhir 1893, Damang Batu tak pernah menetap di desanya. Ia terus berkeliling ke desa lain untuk mengumpulkan makan an. Ada cerita lain yang menyebutkan, Damang Batu juga menyiapkan 100 kerbau miliknya untuk makan an para undangan. Ia juga meminta masyarakat di Tumbang Anoi dan sekitarnya membangun pondok bagi tamu undangan rapat.

Damang Batu jugalah yang menyebarkan undangan rapat secara berantai kepada kepala suku-kepala suku di daratan Kalimantan.

Sebanyak 152 suku diundang ke Tumbang Anoi. Dalam rapat yang digelar selama dua bulan sejak 22 Mei hingga 24 Juli 1894 itu, sekitar 1.000 orang hadir. Mereka dari suku-suku Dayak dan sejumlah pejabat kolonial Belanda wilayah Borneo. Usop juga mencatat, sedikitnya 50 kerbau, 50 sapi, dan 50 babi, serta bahan makan an lain seperti beras dan ubi kayu disediakan untuk konsumsi mereka yang hadir ketika itu.

Selain mengakhiri tradisi pengayauan, rapat akbar itu juga menyepakati beberapa keputusan penting, di antaranya menghentikan perbudakan dan menjalankan hukum adat Dayak.

Dalam catatan sejarah yang ditulis Usop, rapat di Tumbang Anoi itu juga membahas sekitar 300 perkara. Sebanyak 233 perkara dapat diselesaikan, 24 perkara ditolak karena kedaluwarsa atau sudah lebih dari 30 tahun, dan 57 ditolak karena kekurangan bukti.

Tumbang Anoi menjadi tempat perdamaian sebelum abad 19 upaya-upaya perdamaian itu memang saudah mulai dilakukan oleh beberapa pihak. Rapat atau Pumpung di Tumbang Anoi memang di prakarsai oleh Belanda, dan dipilih desa tersebut mengingat letaknya yang berada di tengah-tengah, sehingga para undangan dari segala daerah dapat dengan mudah datang. Nama-nama yang hadir dalam pertemuan tersebut yaitu tokoh-tokoh yang dipercayai oleh masyarakat, sebagaimana catatan Damang Pijar, kepala adat Kahayan Hulu, ialah sebagai berikut:

1. Asisten Residen Hoky dari Banjarmasin

2. Kapten Christofel dari Kuala Kapuas

3. Letnan Arnold dari Kuala Kapuas

4. Raden Johannes Bangas dari Kuala Kapuas

5. Jaksa Sahabu dari Kuala Kapuas

6. Tamanggung Dese dari Kuala Kapuas

7. Juragan Tumbang dari Kuala Kapuas

8. Suta Nagara, Telang—sungai Mahakam (Kalteng)

9. Tamanggung Jaya Karti, Buntok

10. Tamanggung Sura, Buntok

11. Mangku Sari, Tumbang (Muara) Teweh

12. Tamanggung Surapati, Siang

13. Tamanggung Awan, Saripoi

14. Tamanggung Udan, Nyarung Uhing

15. Jaga Beruk, Tumbang Kunyi

16. .Raden Sahidar, Tumbang Jelay

17. .H. Bamin, Tumbang Jelay

18. Tamanggung Hadangan, Tumabang Likoi

19. Tamanggung Lenjung, Tumbang Lahei

20. H. Bahir, Tumbang Lahung

21. .H. Halip, Tumbang Lahung

22. .Bang Ijuk, Batu Salak—Sungai Mahakam (KalTim)

23. Kawing Irang, Batu salak

24. Bang Lawing, Batu salak

25. Taman Lasak, Tumbang Pahangei

26. Juk Bang, Tumbang Pahangei

27. Juk Lai, Tumbang Pahangei

28. H. Burit, Samarinda

29. Taman Jejet, Long Iram

30. Taman Kuling, Kenyahulu

31. Hang Lasan, Tumbang Nawang

32. Barau Lulung, Tumbang Pahangei

33. Damang Ujang, Pujon—Sungai Kapuas (KalTeng)

34. Tamanggung Tukei, Tumabang Bukoi

35. Damang Suling, Tumbang Tihis

36. Damang Jungan, Tumaban Bukoi

37. Damang Pilip, Tumbang Rujak

38. Temanggung Tewung, Tumbang Sirat

39. Damang Antis, Taran

40. Jaga Ajun, Tumbang Tampang

41. Tamanggung Jahit, Danau Tarung

42. Tamanggung Tiung, Tumbang Tarang

43. Siang Irang, Bulau Ngandung

44. Raden Timbang, Tumbang Tihis

45. Damang Rahu, Tumbang Tihis

46. Damang Rambang, Pangkoh—sungai Kahayan (KalTim)

47. Singa Rawe, Petak Bahandang

48. Ngabeh Suka, Pahandut

49. Tamanggung lawak, Bukit Rawi

50. Jaga Kamis, Bawan

51. Damang Sawang, Pahawan

52. Tundan, Guha

53. Dambung Tahunjung, Sepang Simin

54. Dambung Turung, Tuyun

55. Jaga Saki, Luwuk Sungkai

56. Kiai Nusa, Tumbang Hakau

57. Singa Laju, Hurung Bunut

58. Singa Mantir, Teweng Pajangan

59. Raden Binti, Tampang

60. Mangku Tarung, Tampang

61. Tamanggung Tuwan, Kuala Kurun

62. Singa Ranjau, Kuala Kurun

63. Ngabe Hanjung, Tumbang Manyangan

64. Damang Murai, Tewah

65. Dambung Nyaring, Tewah

66. Singa Mantir, Kasintu

67. Singa Antang, Batu Nyiwuh

68. Tamanggung Tawa, Tumbang Habaon

69. Tembak, Tumbang Hanbaon

70. Damang Sangkurun, Tumbang Sarangan

71. Damang Kacu, Datah Pacan

72. Dambung Odong, Tumbang Miri

73. Mangku Saman, Tumbang Marikoi

74. Singa Saing, Tumbang Marikoi

75. Bahau, Tumbang Marikoi

76. Singa Ringin, Tumbang Maraya

77. Mangku Rambung, Lawang Kanji

78. Akin, Lawang Kanji

79. Mangku Rambung, Tumbang Rambangun

80. Damang Batu, Tumbang Anoi

81. Dambung Karati, Tumbang Anoi

82. Dambung Sanduh, Lawang Dahorang

83. Singa Dohong, Tumbang Mahorai

84. Raden Pulang, Tumbang Mahorai

85. Dambung Saiman, Sungai Hurus, Sungai Hamputung

86. Singa Kating, Tumbang Korik, Sungai Hamputung

87. Jaga Jalan, Tumbang Korik, Sungai Hamputung

88. Tamanggung Paron, Tumbang Sonang, Sungai Hamputung

89. Damang Kawi, Tumbang Sonang, Sungai Hamputung

90. Tamanggung Pandung, Tumbang Musang, Sungai Miri

91. Damang Teweh, Tumbang Pikot, Sungai Miri

92. Damang Patak, Tumbang Hujanoi, Sungai Miri

93. Mangku Turung, Mangkuhung, Sungai Miri

94. Dambung Besin, Tumbang Manyei, Sungai Miri

95. Singa Tukan, Tumbang Masukih, Sungai Miri

96. Singa Dengen, Harueu, Sungai Miri

97. Damang Jinan, Tumbang Manyoi, Sungai Miri

98. Damang Singa Rangan, Tumbang Malahoi, Sungai Rungan, dan Manuhing

99. Singa Ringka, Tumbang Malahoi, Sungai Rungan dan Manuhing

100. Damang Bakal, Manuhing, Sungai Rungan dan Manuhing

101. Tamanggung Hening, Manuhing, Sungai Rungan dan Manuhing

102. Damang Anggen, Katingan—Sungai Katingan

103. Damang Sindi, Lahang, Sungai Katingan

104. Dambung Rahu, Talunei, Sungai Katingan

105. Damang Bundan, Tumbang Sanamang, Sungai Katingan

106. Raden Runjang, Tumbang Panei, Sungai Katingan

107. Dambung Panganen, Tumbang Panei, Sungai Katingan

108. Raden Tinggi, Balai Behe, Sungai Sanamang

109. Tamanggung Penyang, Tumbang Bemban, Sungai Sanamang

110. Tamanggung Rangka, Tumbang Sanamang, Sungai Sanamang

111. Tamanggung Tumbun, Rantau Pulut, Sungai Seruyan

112. Damang Jungan, Tumbang Kalanti, Sungai Kalang

113. Singa Antang Kalang, Tumbang Gagu, Sungai Kalang

114. Tamanggung Johan, Tumbang Manggu, sungai Samba

115. Damang Awat, Tumbang Basain, sungai Samba

116. Tamanggung Bahe, Rantau Tapang, Sungai Samba

117. Raden Maung, Tumbang Hangei, Sungai Samba

118. Tamanggung Luhing, Tumbang Atei, Sungai Samba

119. Condrohur, Tumbang Jinuh—(KalBar)

120. H. Mansyur, Tumbang Jinuh

121. Tamanggung Bungai, Tumbang Ela

122. Marta Jani, Nasa Jinuh

123. Kiai Saleh, Manukung

124. Raden Adong, Manukung

125. Raden Paku, Manukung

126. H.Mas Maruden, Sakasa

127.Raden Lang Laut, Sarawai—Sungai Sarawai (Kalimanan Utara)

128.Raden Bundung, Tuntama, Sungai Serawai

129 Raden-Singa Luwu, Malakan, Sungai Serawai

130. Raden Damang Bewe, Mantonai, Sungai Serawai

131.Tamanggung Singa Nagara, Tumbang Nyangai, Sungai Serawai

132.Tamanggung Mangan, Batu Saban, Sungai Serawai

133.Tamanggung Tingai, Punan Mandalan, Sungai Serawai

134. Tam Juhan, Tumbang karamei, Sungai Serawai

135. Tam Dulah, Tumbang Balimbing, Sungai Serawak

136. Tam Sarang, Mondai, Sungai Serawai

Penyeragaman hukum adat hasil Rapat Damai Tumbang Anoi tahun 1894 meliputi pasal-pasal berikut ini:

Pasal 1

Singer Tungkun (denda adat merampas istri orang lain)

Dikenakan pada barangsiapa yang berani membujuk, merampas istri atau suami orang lain sehingga akibatnya pria/wanita itu cerai dengan suami/istri yang terdahulu dan kawin dengan wanita/pria baru yang menungkun. Contoh: A berani mengambil wanita/pria B, suami/istri C. Singer Tungkun dapat dikenakan pada A.

Ancaman singer tungkun:

Dua kali nilai palaku adat kawin B dulu bagi C.

Lima belas kati ramu (tekap bau mate) bagi keluarga C.

Pakaian sinde mendeng (satu stel pakaian bagi C).

Nilai ganti rugi biaya pesta kawin B dulu bagi C sekeluarga.

A menanggung biaya pesta perdamaian adat khusus (makan-minum bersama, memotong dua ekor babi bagi alam dan masyarakat setempat, dimana acara saling saki, lamiang sirau sirih masak kiri-kanan, lilis peteng, sanaman pangkit hambai hampahari, dll pelengkapnya.

A menanggung biaya pesta kawin barunya dengan B.

A menanggung resiko singer terhadap anak/istrinya sendiri jika dia sudah berkeluarga.

Pasal 2

Singer Tungkun Balang, dosa palus (gagal merampas, tapi berzina)

Jika terjadi kasus seperti Pasal 1 tapi C mengambil atau menerima kembali, sehingga singer tungkun menjadi batal. Tapi A dapat diancam dosa sala (zina) sebesar 100-300 kati ramu. Sambil memperhatikan isi perjanjian B dan C terdahulu serta tinggi rendahnya martabat B dan C dan proses kejadian khusus itu ditutup dengan pesta persaudaraan damai adat yang ditanggung ilah A atau A, B dan C menurut pertimbangan para mantir adat setempat.

Pasal 3

Singer Hatulang Belom (denda dalam perceraian sepihak)

Pihak mantir atau pemangku adat memperhatikan perjanjian dan keterangan para saksi perkawinan dulu dan mempelajari kasus kejadian, pihak mana yang bersalah melanggar perjanjian sendiri, mempertimbangkan alasan, sengaja atau tidak sengaja alasan yang masuk akal atau dibuat-buat.

Ancaman hukuman:

Sesuai dengan perjanjian kawin.

Para mantir adat dapat memberatkan atau menambah hukuman setinggi-tingginya 30 kati ramu jika dipandang perlu.

Jika ada anak, segala barang rupa tangan dibagi dua atau terkecuali ada pertimbangan lain oleh mantir

Biaya pesta adat makan-minum bersama ditanggung pihak yang bersalah.

Pasal 4

Singer Hatulang Palekak Sama Handak (denda perceraian karena kehendak bersama)

Oleh mantir adat, atas permintaan yang bersangkutan untuk mengusahakan suatu perceraian, mempelajari alasan-alasan mereka, mempertimbangkan, menuntut hak dan beban masing-masing antara lain:

Memberi harta rupa tangan menurut perjanjian kawin dahulu.

Jika ada anak, harta rupa tangan menjadi hak anak.

Jika tidak ada anak, harta dibagi secara damai, bagi dua, atau bagi tiga dipatutkan dengan pertimbangan para mantir adat.

Biaya pesta adat, makan-minum bersama hambai hampahari (pesta persaudaraan) dengan hakekat pengumuman bagi segala unsur lingkungan hidup, baik yang tampak maupun yang tak nampak (panggutin petak danum) ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

Pasal 5

Singer Palekak Pisek/Panggul Pupuh (denda batal janji tunangan atau calon tunangan)

Kasusnya:

Kedua pihak orang tua pernah saling janji dikuatkan dengan pesta pisek akan mengawinkan anaknya, walaupun anak mereka pada waktu itu masih kecil. Kemudian oleh salah satu pihak dibatalkan sehingga patut dihukum.

Sanksinya:

Pihak yang membatalkan dihukum sesuai dengan janji semula.

Jika pihak wanita yang membatalkan, maka semua barang titipan yang pernah diterimanya dari pihak pria, patut dikembalikan dua kali lipat, ditambah dengan beberapa, patut menuntut pertimbangan para mantir adat, namun pisek dikembalikan.

Jika pihak pria yang membatalkan, maka pihaknya tidak boleh menuntut apa saja yang suda diberikan malah dapat dihukum membayar singer kaleket sekurang-kurangnya biaya pesta pisek dulu

Biaya pesta adat makan bersama, ditanggung oleh pihak yang membatalkan.

Pasal 6

Singer Tungkun Paisek (denda karena berani merampas tunagan orang lain)

Kasusnya:

Pihak A sudah bertunangan dengan pihak B, pernah dikokohkan dalam suatu acara hisek. Dikemudian hari, datang gara-gara dari pihak C sehingga mufakat A dan B gagal.

Sanksinya:

Pihak C dan B diancam hukuman adat atas permintaan sebagai berikut:

Sikap tekap bau mate 15-60 kati ramu bagi keluarga A, dari pihak C, lebih-lebih jika A itu wanita

B dan C membayar kalekak paisek (pasal 5) bagi A.

C membayar atau menanggung biaya pesta adat singer tungkun paisek (hambai hangkat persaudaraan) antara A dan B dalam acara makan-minum bersama.

Pasal 7

Singer Tihi Sarau Sumbang Tulah (denda hamil gelap, sumbang tulah)

Kasusnya:

Wanita A hamil gelap (sarau) akibat zina dengan pria B yang salah janjang atau sumbang (hurui tamput) atau karena silsilah kerabat yang bukan silsilah darah atau akibat zina, tulah (salah jenjang silsilah darah). Diperlukan darah hewan korban yang besar, babi atau sapi atau kerbau demi pelestarian alam lingkungan hidup masyarakat setempat (penggantin petak danum) diperlukan upaya pembasuhan maksiat, palis pali, bersih desa, pelestarian lingkungan.

Sebagai penjelasan, masyarakat adat paling tidak suka atau enggan menerima kehadiran predikat anak sarau karena hal itu terjadi akibat atau gejala kehancuran kesusilaan manusia. Gejala yang memudarkan pengendalian diri sehingga mendekati moral binatang, kelestarian lingkungan tidak lagi serasi-selaras dan seimbang, gara-gara ulah dua orang jenis manusia yang diam-diam menjadikan dirinya sebagai binatang; jadi merusak ungkapan belom bahadat. Justru itu mekanis pengusutan kasus ini memerlukan ketrampilan khusus dari para pemangku adat, terutama bagaimana menggali keterangan dari pihak wanita yang bersangkutan, sehingga pihak pria yang bersangkutan tidak berkutik. Biasanya kasus pasal ini dibagi menjadi 3 kategori:

Zina hasil sesama jenjang silsilah

Zina, hasil tidak sejenjang silsilah yang sumbang bukan silsilah darah (hurui tamput)

Zina, hamil tidak sejenjang silsilah darah (hurui daha) keatas atau kebawah (hurui anak, aken, atau esu) biasa disebut tulah

Jika sudah diketahui teman zina (pria) yang menghamili wanita bersangkutan dan diketahui kategori mana peristiwa itu, maka pengusutan konkrit dilaksanakan oleh masyarakat setempat bersama-sama dengan ketua adat atau pemangku adat.

Pelaksanaan sanksi:

Jika sarau sumbang:

Pesta adat potong hewan babi, darahnya dibagi-bagi ke seluruh kampung untuk saksi palas bumi, air dan langit (lingkungan hidup). Dagingnya dimakan bersama, pesta diluar rumah, pria dan wanita bersangkutan dipanggil seperti memanggil hewan untuk makan dan mengambil makanan tidak boleh dengan tangan sendiri tetapi mengambil makanan langsung dari mulutnya.

Mereka berdua harus meniru-niru binatang, makan dan minum dihadapan orang banyak dimuka umum.

Pihak pria yang bersangkutan menanggung biaya pesta adat pelestarian itu seluruhnya.

Pihak pria membayar 90-180 kati ramu kepada pihak wanita.

Tekap bau mate 30-60 kati ramu bagi keluarga wanita.

Tambalik Jela, 15-30 kati ramu kalau mereka jadi.

Terus kawin ditambah nilai serendah-rendahnya 45 kati ramu. Tetapi jika mereka tidak jadi kawin, pria yang bersangkutan hanya membayar biaya pesta adat pelestarian itu seluruhnya, 90-180 kati ramu, tekap bau mate 30-60 kati ramu.

Jika sarau tulah:

Pesta adat di luar rumah. Potong hewan besar, sapi atau kerbau. Darahnya dibagi-bagi ke beberapa kampung sekitarnya untuk pelestarian alam lingkungan. Upacara dipimpin oleh seorang Pisur, basir tukang tawur saksi palas pohon buah-buahan. Daging hewan itu dimakan bersama diluar rumah. Kedua orang, wanita/pria yang bersangkutan dipanggil makan mirip seperti memanggil binatang, mereka mengambil makanan dalam sebuah dulang mirip seperti hewan maka, tidak boleh mengambil makanan dengan tangan tapi langsung dengan mulut. Menjadikan diri sebagai binatanag dihadapan umum.

Pihak pria bersangkutan menanggung biaya pesta adat pelestarian itu seluruhnya.

Membayar denda senilai 120-210 kati ramu bagi pihak wanita, atau disisihkan sebagian untuk keperluan kampong.

Tekap bau mate 45-75 kati ramu bagi keluarga wanita atau tetangga sekampung

Keduanya tidak boleh dikawinkan.

Pasal 8

Singer Tihi, Sarau Sawan Oloh (denda hamil gelap dengan istri orang lain)

Kasusnya:

Pria A berani mengganggu, merayu, berzina sampai hamil wanita B istri C. Dengan cukup bukti, C menuntut keberatan.

Sanksi:

Jika B belum pernah beranak maka A diancam hukuman denda 30-75 kati ramu. Tetapi kalau wanita B sudah ada anak maka dendanya dapat diancam denda 120 kati ramu sampai dengan 180kati ramu bagi C dan anaknya.

Pakaian sinde mendeng bagi bapak dan anak. Pesta adat, saki palas darah babi, makan-minum bersama, lilis peteng, sanaman pangkit, seluruhnya ditanggung A. Tekap bau mate dari A bagi waris B dan C sedikitnya 15-30 kati ramu.

Pasal 9

Singer Sarau Tihi Bujang (denda hamil gelap gadis perawan)

Kasusnya:

Seorang pria A mengganggu, menggoda, membujuk wanita B yang bujang, berzina sampai hamil kemudian diketahui oleh orang lain/umum dan menjadi kasus.

Sanksi:

Singer tekap bau mate 15-30 kati ramu.

Singer dosa sala (zina) 30-45 kati ramu.

Jika tidak kawin, harus adanya jaminan anak yang dikandung wanita B, 30-60 kati ramu.

Jika terus kawin, pria membayar jalan hadat kawin.

Jika pria A ada anak-istri, istrinya dapat menuntut sebagai kasus tersendiri.

Biaya pesta adat makan-minum bersama ditanggung oleh A.

Pasal 10

Singer Marusak Balu (denda merusak janda)

Kasusnya:

Pria A kedapatan berzina atau sampai hamil wanita janda B, bekas istri arwah C.

Sanksi:

Pria A dapat diancam singer karusak balu sesar 30-60 kati ramu bagi waris arwah C jika B belum tiwah. Tapi jika sudah tiwah, maka materi singer itu jatuh ke tangan waris wanita B. Jika wanita B ada anak, maka singer ditambah 15-30 kati ramu bagi anak-anaknya. Pesta adat makan-minum ditanggung oleh pria A.

Pasal 11

Singer Sala Basa dengan Sawan Oloh (denda salah tingkah pada istri orang lain)

Kasusnya:

Pria dewasa yang berkunjung sendirian ke rumah istri orang lain dan atau dapat dicurigai, diduga mengganggu istri orang yang bersangkutan, atau wanita lainnya di rumah itu.

Sanksi:

Pria dewasa yang sering berkunjung itu dapat diancam oleh singer sala basa atas keberatan atau pengaduan suami wanita yang bersangkutan sebesar 15-30 kati ramu bagi suami wanita yang dimaksud.

Pasal 12

Singer Sala Basa dengan Bawi Bujang (denda salah tingkah pada gadis perawan)

Kasusnya:

Seorang pria yang mengajak seorang atau beberapa orang gadis perawan dengan tidak seijin keluarga atau bapak-ibunya, menyendiri atau tidak jelas tujuannya. Tingkah-laku demikian dapat dianggap memberi malu bagi keluarga, seolah-olah menjadikan gadis itu dibuat menjadi ringan di mata umum (tidak sopan)

Sanksi:

Pria sedemikian dapat dihukum dengan ancaman singer sala basa 15-30 kati ramu.

Pasal 13

Singer Sala Basa dengan Oloh Beken (denda salah tingkah dengan orang lain)

Kasusnya:

Perbuatan atau tingkah lakunya terhadap seseorang atau orang lain ke arah yang memberi malu, merusak nama baik, mengancam, oleh seseorang terhadap orang lain pria/wanita atau terhadap barang kepunyaan orang lain.

Sanksi:

Perbuatan atau tingkah demikian dapat diancam hukuman sala basa 15-30 kati ramu.

Pasal 14

Singer Paranggar Raung ( denda pelanggaran raung atau peti mati)

Kasusnya:

Pria A kawin dengan wanita B denda bekas suami arwah B yang masih belum ditiwahkan. Menurut adat oleh janda B (pengurusan tulang-belulang C masih menjadi beban/tanggung jawab janda B), sedangkan perkawinan AB tidak seijin waris terdekat almarhum C sehingga ahli waris C dapat menuntut singer paranggar raung terhadap A dan B.

Sanksi:

A dan B dapat diancam denda sebesar 90-120 kati ramu bagi waris C untuk cadangan biaya tiwah, tapi tidak berarti sang janda bebas dari kewajiban tiwah arwah suaminya (C). Biaya pesta adat ditanggung A dan B.

Pasal 15

Singer Palangi Pangarai (singer cadangan untuk biaya tiwah)

Kasusnya:

Pria duda A istrinya B dan baru saja mati karena bersalin melahirkan anak, pihak keluarga wanita B ingin mengharap kepastian atau jaminan dari upacara meniwahkan arwah B.

Sanksi:

Pria duda A diharuskan memberi kepastian atau jaminan dengan menyisihkan atau menitipkan materi senilai 120-150 kati ramu, untuk cadangan biaya tiwah pada pihak keluarga B dihadapan para orang-tua, dalam pesta adat kecil melalui behas tawur diberitahukan juga arwah B di negeri akhirat.

Pasal 16

Singer Sahiring (denda pembunuhan)

Pasal ini berkaitan dengan pasal 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, dan 27.

Kasusnya:

Si A mati terbunuh atau dibunuh oleh pihak B seorang atau beberapa orang.

Jika kematian A ada kesalahannya yang sah antara lain mengganggu wanita, merampas barang, atau kesalahan lainnya, yang dapat dibuktikan kebenarannya, maka perincian nilai singer sahiring dapat dipotong demi kesalahannya atau karena pembunuhnya membela diri, terbukti dengan luka-lka bagian muka, samping atau belakang (tidak sengaja/terbunuh).

Jika dibunuh dengan sengaja, berencana, atau karena mengingini sesuatu dari si A atau karena ada alasan lainnya sehingga menguatkan anggapan sengaja dibunuh.

Oleh para pemangku adat dan mantir adat diperlukan kejelian dan kemampuan dalam pemeriksaan. Untuk ini diperlukan beberapa orang pemangku adat agar ikut serta mempertimbangkan beberapa macam pasal singer adat yang memberatkan dan unsur yang meringankan (memperhatikan sifat-sifat sengaja atau tidak sengaja dalam kasus pembunuhan itu).

Sanksi:

Pihak keluarga A boleh saja menuntut singer sahiring sebesar 375-750 kati ramu, tapi para pemangku adat menempati diri berada ditengah-tengah (mengadili kasus itu).

Pihak B karena perbuatannya dapat diancam hukuman adat 17 singer bangunan pasal 18 singer timbal, pasal 19 singer tetek, pasal 20 singer salem balai, pasal 21 singer paramun hantu, pasal 22 singer tipuk danum, pasal 23 singer biat himang, pasal 24 singer pengecuali bunu, pasal 25 singer tulak haluan, pasal 26 singer tetes hinting bunu dan pasal 27 singer puseh panguman.

Jika terdapat kepastian bahwa si A ada kesalahan maka dari materi singer-singer tersebut diatas dapat dipotong atau dikurangi.

Singer adat yang tidak boleh dipotong ialah pasal-pasal 20 salem balai, pasal 21 paramun hantu, dan pasal 22 tipuk danum.

Pasal 17

Singer Banguhan, Penyau Sangguh, Penyau Penyang (denda mebunuh, basuh tombak dan basuh penyang)

Kasusnya:

Orang-orang yang mula-mula melaksanakan pembunuhan di sebuah bangunan, karena dia dan tombaknya atau senjatanya yang patut dibasuh pada tingkat pertama disebut singer. Pada tingkat kedua siapakah yang menyuruh dia berbuat demikian, apakah hatinya sendiri atau disuruh dan diupah oleh orang lain disebut si B. Jadi karena penyang si B, maka si A berbuat. Dan penyang inilah yang patut dibasuh. Justru itu pasal ini disebut penyau sangguh dan penyau penyang.

Sanksi:

Si A pada tingkat pertama diancam hukuman penyau sangguh sebesar 30-75 kati ramu bagi warisan korban. Demikian pula si B diancam hukuman penyau penyang sebesar 30-60 kati ramu bagi waris korban. A dan B ini mungkin terdiri dari satu orang saja jika perbuatan itu atas kehendaknya sendiri otomatis diancam singer banguhan denda 60-135 kati ramu diatas satu orang saja.

Pasal 18

Singer Timbal-Timbalan (denda terhadap pembantu pembunuhan)

Kasusnya:

Sesudah orang lain berbuat melaksanakan pembunuhan pada tingkat pertama, dan tingkat kedua pada pasal 17 pasti disusul perbuatan tingkat ketiga oleh satu orang atau lebih yang membantu, yang disebut timbal. Perbuatan tingkat ketiga inilah yang menjadi isi pasal ini (tersebut disini si C).

Sanksi:

Peranan C yang membantu pembunuhan satu orang atau lebih, masing-masing diancam hukuman timbal sebesar 15-30 kati ramu bagi waris korban.

Pasal 19

Singer Tetek Uyat (denda potong leher)

Pekerjaan memotong leher orang yang sudah mati, dibunuh, membawa, memisah kepala orang dari tubuh mayatnya untuk tujuan atau maksud apa saja, tersebut disini si D.

Sanksi:

Perbuatan yang sedemikian dapat diancam hukuman pasal ini dengan denda 75-105 kati ramu bagi waris korban. Dianggap perbuatan pembunuhan pada tingkat keempat dalam teknik pengusutan dan pengadilan.

Pasal 20

Singer Selem Balai (denda berdamai masuk balai)

Kasusnya:

Salah seorang dari pihak pembunuh yang tampil sebagai tempat tuduhan pertama, sementara pengusutan lebih lanjut, dia tampil sebagai pengambil alternatif menghindari terjadinya pembunuhan balas dendam (habunu atau asang dari waris korban yang dibunuh), dia juga belum tentu terlibat dalam perbuatan pembunuhan itu. Disini kita sebut si E sebagai menjadi penjamin menawarkan ajakan berunding damai disebut selem balai terhadap penuntut sahiring yang mungkin dari negeri jauh.

Sanksi:

Hukum adat dasar dalam pasal ini sebesar batun singer 30-60 kati ramu, ije kungan hadangan, dua lamiang panyinggau, sanakan tampajat dan pelengkap lainnya senilai 75 kati ramu (denda dasar ini pada akhirnya dibayar oleh orang yang sebenarnya membunuh setelah diusut).

Pasal 21

Singer Paramun Hantu (denda sarana kelengkapan jenazah)

Kasus:

Waris korban yang dibunuh menuntut pihak pembunuh membayar adat kelengkapan jenazah, dengan ilustrasi bayangannya sebagai berikut:

1. Lalang umah-e

2. Sandapang entang-e

3. Mariam/lela

4. Taring gajah

5. Tarikan penyang

6. Sipet telep

7. Ewah bumbun

8. Sangkarut karungkung

9. Salau